Jadigini.com – Ramadan kerap menjadi momen refleksi, bahkan bagi mereka yang hidupnya tak pernah jauh dari sorotan kamera. Di tengah jadwal syuting, kontrak iklan, dan berbagai undangan acara, bulan puasa sering kali menghadirkan pilihan: tetap tancap gas atau justru menarik rem sejenak.
Table Of Content
Bagi Ruben Onsu, Ramadan tahun ini terasa berbeda karena ia dengan sadar memutuskan untuk memperlambat ritme kerja. Presenter berusia 42 tahun itu memilih memberi ruang lebih luas untuk ibadah dan kebersamaan.
“Aku memang sengaja membatasi pekerjaan selama puasa,” kata bapak tiga anak tersebut saat ditemui awak media di kawasan Depok, Jawa Barat, pada 19 Februari 2026.
Mengatur Ulang Prioritas
Keputusan membatasi pekerjaan bukan sekadar soal mengurangi lelah. Ada prioritas yang ingin ditata ulang. Dengan jadwal yang lebih longgar, Ruben merasa punya waktu untuk memenuhi undangan buka puasa bersama maupun menghadiri kajian bersama keluarga, sahabat, dan kolega.
“Sebelumnya, karena saya sibuk kerja kan enggak bisa datang tuh,” ujarnya.
Di tengah kesibukan dunia hiburan, kesempatan berkumpul sering kali terlewat. Ramadan, menurutnya, menjadi momentum yang pas untuk mempererat silaturahmi. Buka puasa bersama bukan hanya tradisi, tetapi ruang bertemu, saling mendoakan, dan memperbaiki hubungan.
Makna Buka Puasa di Tengah Rutinitas
Banyak orang memaknai buka puasa sekadar waktu melepas dahaga. Namun bagi Ruben, ada nilai sosial yang lebih dalam. Ia meyakini momen tersebut adalah waktu yang tepat untuk mengeratkan silaturahmi dengan sesama muslim.
Tradisi ini juga memperlihatkan sisi humanis seorang figur publik. Di balik panggung dan sorotan, ada kebutuhan sederhana untuk hadir secara utuh bersama orang-orang terdekat.
Menu Sederhana, Tanpa Ribet
Menariknya, soal menu berbuka, Ruben justru memilih yang praktis. Tak ada daftar panjang hidangan mewah. Ia mengaku cukup dengan kurma dan beberapa makanan ringan khas rumahan.
“Kurma adalah menu yang wajib ada di rumah saya, mau itu puasa atau tidak puasa. Paling sebagai pelengkap, saya makan lontong oncom, bakwan, dan pastel.”
Kurma memang identik dengan sunnah berbuka. Sementara lontong oncom dan gorengan seperti bakwan serta pastel menghadirkan sentuhan tradisional yang akrab di lidah masyarakat Indonesia.
Setelah menyelesaikan ibadah, Ruben baru menikmati makanan berat pada malam hari atau menjelang sahur. Pola ini menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan fisik dan spiritual.


