Jadigini.com – Di dunia media, ada satu ironi yang menarik: lembaga penyiaran yang didanai negara. Di satu sisi, ia punya sumber daya masif untuk menjangkau dunia. Di sisi lain, ia harus terus-menerus menari di atas garis tipis antara menyajikan jurnalisme independen dan menjadi corong pemerintah yang membiayainya. Ketika pemimpin negara tidak suka dengan tariannya, konflik pun tak terhindarkan.
Table Of Content
Inilah drama yang terjadi antara pemerintahan Donald Trump dan Voice of America (VOA), lembaga penyiaran internasional legendaris milik Amerika Serikat.
Saat Gedung Putih ‘Berperang’ dengan Media Bikinannya Sendiri
Kisah ini memuncak sekitar setahun lalu, tepatnya pada Maret, ketika pemerintahan Trump mengambil langkah drastis. Anggaran untuk VOA dibekukan. Alasannya? Trump menuding VOA telah menyebarkan “propaganda radikal”, bias, dan gagal mempromosikan kebijakan pemerintahannya.
Akibatnya fatal. Lebih dari seribu pegawai, tepatnya 1.042 orang, mendadak dirumahkan. Mereka tidak dipecat, melainkan ditempatkan dalam status cuti administratif berbayar—sebuah limbo ketidakpastian bagi para jurnalis dan staf di VOA serta lembaga penyiaran federal lainnya. Mesin berita global yang telah beroperasi sejak Perang Dunia II itu mendadak lumpuh, dibungkam oleh tangan yang seharusnya memberinya makan.
Palu Hakim Mengetuk, Ribuan Nasib Jurnalis Ditentukan
Setelah setahun dalam ketidakpastian, babak baru pun dimulai. Bukan di ruang redaksi atau Gedung Putih, melainkan di ruang pengadilan. Hakim Pengadilan Distrik Amerika Serikat, Royce C. Lamberth, mengeluarkan perintah tegas yang mengguncang pemerintahan Trump.
Dalam putusannya, hakim Lamberth memberi Agensi Amerika Serikat untuk Global Media (induk VOA) waktu hanya satu minggu. Tujuannya jelas: mengizinkan 1.042 karyawan yang telah cuti paksa untuk kembali bekerja paling lambat pada 23 Maret mendatang. Palu hakim seolah menjadi sinyal bahwa independensi jurnalistik, bahkan di dalam lembaga yang didanai pemerintah, adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.
Bukan Sekadar Berita, Ini Soal Wajah Amerika di Mata Dunia
Perintah pengadilan ini bukan hanya soal nasib seribuan karyawan. Ada konteks geopolitik yang lebih besar di baliknya. Hakim menilai pemulihan VOA krusial untuk menjaga hubungan baik Amerika dengan negara-negara lain, terutama di tengah memanasnya situasi perang di Iran. Tanpa VOA, Amerika kehilangan salah satu alat soft power terpentingnya.
Kabar ini disambut dengan kelegaan luar biasa oleh para insan VOA. “Kami tahu jalan untuk memulihkan operasi VOA dan reputasi akan panjang dan sulit. Kami berharap rakyat Amerika akan terus mendukung misi kami untuk memproduksi jurnalisme, bukan propaganda,” ujar Patsy Widakuswara, salah satu karyawan VOA.
Direktur VOA, Michael Abramowitz, yang tahun lalu nyaris dipecat, juga menyuarakan optimismenya. “Kami sangat gembira dengan putusan Hakim Lamberth dan berharap dapat kembali bekerja. Voice of America tidak pernah lebih dibutuhkan daripada sekarang,” katanya.
Dengan sejarah menyiarkan berita ke seluruh dunia dalam 49 bahasa berbeda kepada 362 juta orang, kembalinya VOA adalah penegasan bahwa suara jurnalisme lebih sulit dibungkam daripada yang dibayangkan politisi.


